Teringat ramadhan lalu, saat Kakak masih disini. Selalu ada
waktu untuk makan bersama saat adzan magrib berkumandang. Dirumahku, dirumah
Kakak, atau di resto favorit kita. Status kita memang tak pernah jelas hingga
akhirnya Kakak memutuskan untuk menerima tawaran mutasi kerja di Bangka sana. Jarak
memisahkan kita, perlahan Kakak pergi, semakin jarang bertukar kabar, dan
akhirnya Kakak menghilang. Aku tau Kakak begini karna sikapku yang terlau sering
mengabaikan ketulusan Kakak. Hari ini aku mengingat mu Kak, sedang apa Kakak
disana? Terkadang aku rindu tapi mungkin ini yang terakhir karna kemarin
kekasihmu menelponku, menyuruhku membujuk Kakak untuk mengajaknya menikah. Aku heran
untuk apa Kakak memberi nomorku padanya? Dia juga sempat menyuruhku untuk tak
mengganggu kakak lagi, jelas aku marah karna aku tak pernah mengganggu Kakak. Apa
pernah aku menghubungi Kakak terlebih dahulu? Aku menyuruhnya untuk bertanya
pada Kakak karna menurutku Kakaklah yang sering menggangguku, mengusikku. Kakak
seringkali menipuku dengan memakai no baru, pin orang lain, bahkan account twitter
milik orang lain juga. Aku menyuruhnya untuk bertanya kapan terakhir Kakak WA
aku dengan menggunakan no baru dan nama samaran, terus memujiku, menasehati
seakan sudah kenal baik.
Dia terdiam saat aku menyuruhnya menanyakan hal itu dan
segera mengakhiri pembicaraan. Maafkan aku Kak membocorkan semuanya. Aku iba
pada pacar Kakak. Dia wanita lembut, tak pantas dikhianati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar