Sabtu, 19 Juli 2014

My Eyes

Ku buka softlense yang seharian menemaniku beraktifitas lebih dari 12 jam. Aku membaca artikel di laptop yang sedari tadi berada di depan mataku. Semuanya suram, tak terlihat. Wajarlah, mana ada mata minus 3,5 silinder 0,5 bisa melihat jelas. Aku senang saat mengetahui silinderku berkurang yang tadinya 1,75 menjadi 0,5 sekarang aku bisa membuat garis lurus kembali, tapi tetap saja tak berpengaruh kl minusnya terus bertambah. Sekarang semua jadi serba mahal, kacamata, softlense bahkan untuk bekerjapun selalu disyaratkan maksimal minus 3. Ingin sekali rasanya di lastik tapi jelas tak mungkin.

Rabu, 16 Juli 2014

Bye D

“Tadinya mau ngajak ketemu dulu tapi salah liat tanggal, kirain baru tanggal 12 atau 13 ternyata udah 14 dan besok aku balik”. Begitulah kira-kira pesan yang ku dapati darinya, entah kapan akan bertemu lagi. Jika memang berniat untuk menemuiku pasti takan beralasan, toh hari itu juga masih siang, masih banyak waktu untuk bertemu sebelum tanggal 15. Dan sejak sore kemarin dia sudah selamat sampai dikampung halamannya, Tarakan.
Aku bertemu juniornya tepat di depan minimarket tak jauh dari rumahku.
“ki, masuk kuliah kapan?”
“tanggal 8 teh”
“8 apa?”
“September”
Oke berati kurang lebih dia balik sini awal September, ya rabb lama sekali rasanya nanti aku  harus menahan rindu.

Apa dia akan ingat pada janjinya untuk membelikanku gelang yang terbuat dari kulit penyu? Seandainya.

Minggu, 13 Juli 2014

Sabtu Sore di Bulan Juli

Sodik menelponku, mengajakku jalan sekaligus buka puasa diluar dan aku menyetujuinya. Terkadang aku heran padanya, kenapa masih saja terus memperjuangkan orang yang memang telah jelas-jelas menyia-menyiakan, jelas-jelas lebih tua darinya, jelas-jelas sering memanfaatkannya.
Sore ini dia memang terlihat agak berbeda dari biasanya yang tiap melihat sesuatu pasti dibicarakan, semua diomongin, segala topik dibahas. Hari ini dia terlihat lebih cool dan jauh lebih wangi, sepertinya akan ada sesuatu.
Setelah berputar-putar mencari tempat makan, ujung-ujungnya nyangkut di Solaria (lagi), maklum harga mahasiswa kali ya haha..
Di sela-sela pembicaraan, sesekali dia mengarahkan ke arah "kita" tapi aku berusaha mengalihkan ke topik yang lain sampai akhirnya dia menyuruh aku diam. Ini yang selalu membuatku kesal padanya, membuatku malas setiap diajak jalan olehnya. Endingnya selalu kita, kayak dulu, bareng lagi.

Rabu, 09 Juli 2014

Maaf!!

Teringat ramadhan lalu, saat Kakak masih disini. Selalu ada waktu untuk makan bersama saat adzan magrib berkumandang. Dirumahku, dirumah Kakak, atau di resto favorit kita. Status kita memang tak pernah jelas hingga akhirnya Kakak memutuskan untuk menerima tawaran mutasi kerja di Bangka sana. Jarak memisahkan kita, perlahan Kakak pergi, semakin jarang bertukar kabar, dan akhirnya Kakak menghilang. Aku tau Kakak begini karna sikapku yang terlau sering mengabaikan ketulusan Kakak. Hari ini aku mengingat mu Kak, sedang apa Kakak disana? Terkadang aku rindu tapi mungkin ini yang terakhir karna kemarin kekasihmu menelponku, menyuruhku membujuk Kakak untuk mengajaknya menikah. Aku heran untuk apa Kakak memberi nomorku padanya? Dia juga sempat menyuruhku untuk tak mengganggu kakak lagi, jelas aku marah karna aku tak pernah mengganggu Kakak. Apa pernah aku menghubungi Kakak terlebih dahulu? Aku menyuruhnya untuk bertanya pada Kakak karna menurutku Kakaklah yang sering menggangguku, mengusikku. Kakak seringkali menipuku dengan memakai no baru, pin orang lain, bahkan account twitter milik orang lain juga. Aku menyuruhnya untuk bertanya kapan terakhir Kakak WA aku dengan menggunakan no baru dan nama samaran, terus memujiku, menasehati seakan sudah kenal baik.

Dia terdiam saat aku menyuruhnya menanyakan hal itu dan segera mengakhiri pembicaraan. Maafkan aku Kak membocorkan semuanya. Aku iba pada pacar Kakak. Dia wanita lembut, tak pantas dikhianati.

Hello 6

Aku mendapati pesan dari no tak dikenal dan setelah ditanya ternyata dia Dede, sepupu mantanku dulu. Katanya hanya untuk memastikan no ku masih aktif atau tidak.
“No aku juga masih yang dulu ko sa, tapi kamu udah gak save”
Begitulah kira-kira akhir dari smsnya. Aku bilang saja hp dan nomorku rusak.
Hari itu aku sedang dirumah nenekku karna acara bubar keluarga besar, yah rumah yang tak jauh dari rumah sepupu mantanku itu.
Saat memarkir motor untuk pulang, tiba-tiba aku melihat pria tinggi agak berisi tepat didepan muka dan ternyata itu KIKI sepupu Dede. Tak banyak berubah, tetap tampan hanya saja aga menghitam kulitnya. Dia tersenyum sambil jalan melewatiku, akupun mengangguk. Ternyata dia sedang berkunjung kesini. Aku tak sangka akan bertemu lagi dengannya.

Seketika kenangannya muncul lagi. Saat aku dihukum tak boleh memasuki kelas matematika selama 6 pertemuan di awal semester 2 kelas 12, setiap sabtu kamu rela mengajariku dan tak pergi jalan keluar. Saat melihat indahnya Bandung di sabtu malam di Bukit Bintang Dago. Saat mendengar lagu romantis di balkon rumahmu. Dan saat seringkali kau memarahiku karna tak pernah mau mengantarmu futsal. Perjalanan kita memang singkat, terlalu banyak kemarahan, terlalu kekanak-kanakan, dan putus kita hanya karna 2 menit -terlalu lucu memang-.

Kamis, 03 Juli 2014

Miss You Bu

Tiba-tiba saja saat melihat metro tv minggu malam aku teringat guru bahasa indonesia kelas 12 ku, Bu Rossa yang biasa kami panggil Bu Oca. Guru super killer yang katanya kl lihat mood dia tinggal lihat saja baju dan kerudung yang dipakainya, kl merah berarti dia sedang jahat tiada ampun, kl biru jahat tapi masih bisa ngasih toleransi, dan yang paling kami harap adalah baju hijau karna saat itulah kami bisa belajar dengan tenang tanpa tekanan dan melihat senyum indah di wajah cantiknya.
Kami sempat tak mengerti saat pembagian rapot, semua siswa IPS mendapat nilai merah di MP Bahasa Indonesia. So damn. Kami kebingungan, sesulit itukah bahasa indonesia? Sehingga yang tertinggi hanya mampu berada di 65? Jelas jauh sekali dari KKM yang saat itu 80.
Teringat saat dikelas tiba-tiba dia menunjukku dan teman sebelahku, menyuruh kami untuk duduk yang benar tidak terlalu terbuka karna rok yang kami pakai terlalu pendek. Kami saling menatap satu sama lain, sepertinya duduk kami sudah benar, rok pun sudah sewajarnya, tepat diatas lutut bukan di pertengahan paha seperti beberapa siswa yang lain. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk memakai rok rample setiap bertemu pelajarannya. Lalu saat hari jumat, aku duduk diteras bersama teman-temanku, memang hanya aku yang melepas kerudung dan menentengnya, pikirku ini jam istirahat banyak orang yang juga membuka kerudung. Beliau lewat dan menatapku, aku tersenyum, begitupun beliau. Saat beliau kembali, rambutku sedikit ditarik “kerudungnya mana ini Sarah, kenapa dilepas-lepas” aku hanya tersenyum dan segera memakainya.

Betapa rindu dimarahi Ibu, ingin sekali rasanya kembali di masa SMA...