Menjadi dewasa, aku pikir itu menyenangkan. Ketika orang tua
memberikan kepercayaan terhadap pilihanku, memberikan tanggung jawab sepenuhnya
akan hal yang telah aku pilih, mengapresiasi mengenai hal apapun yang telah aku
dambakan dan aku capai. Ini menyenangkan ketika aku dapat melewati segala
sesuatu dengan mudah, merasa puas akan apa yang telah didapat dengan usaha
sendiri.
Menyenangkan juga saat mereka masih mengkhawatirkanku ketika
hari sudah larut dan aku masih bergelut dengan pekerjaanku. Kak dimana? Kak pulang
jam berapa? Kak langsung pulang? Kak dijemput siapa? Kak sudah makan? Kak mau
makan apa?, yah pertanyaan sederhana yang selalu memenuhi whatsappku.
Tapi, menyedihkan ketika rumah hanya menjadi tempat tidur. Ketika
pulang dengan rasa lelah, tanpa banyak bicara langsung menuju kamar dan tidur,
begitupun dengan pagi hari, hanya berpakaian, sarapan, lalu pergi kembali. Aku rindu
ketika waktuku lebih banyak dengan mereka. Menceritakan semua hal pada mereka.
Ceritaku kini hanya singkat saja, mengenai pekerjaan.
Ketika aku dipusingkan dengan pekerjaan, mereka menjadi
korban kemarahanku. Ini menyakitkan, ketika aku tak bisa mengontrol emosi
didepan mereka, ketika aku menunjukkan rasa lelahku, menceritakan keluh kesahku
di kantor, melihat kondisi tubuhku yang semakin tak karuan.
Aku rasa ini terlalu cepat. Jika bisa, aku ingin lebih lama
menjadi remaja. Ketika semuanya selalu terasa mudah. Tak perlu memikirkan ini
itu dan hal yang cukup berat. Ketika tekanan pekerjaan yang semakin dashyat dan
pertanyaan akan “berumah tangga” semakin terus dipertanyakan dan ditekankan,
aku benci.