Aku membereskan rak buku yang terlihat mulai berantakan
karena buku yang sering keluar masuk dari tempatnya. Tiba-tiba saja aku melihat
booklet masa sekolahku, yah masa menjadi siswa di SMAN 11 Bandung United School
Programme (USP), SMA yang menjadi incaran warga Bandung, SMA Favorit, SMA
terbaik di Bandung Selatan. Aku bangga menjadi bagian dari sekolah tersebut.
Sekolah yang luas tak bertingkat dengan masjid terbesar di SMA se Jawa Barat
kala itu, guru olahraga terkiller ever, guru bahasa indonesia terserem forever.
SMAN 11 CERIA.
Aku teringat saat menjadi murid baru di sana, tepat di
semester 2 tanggal 8 januari 2008. Aku memasuki kelas x-9 bersama 2 orang
temanku, mengenalkan diri dihadapan mereka yang telah menjadi siswa disana
terlebih dulu. Tak perlu waktu lama untuk berbaur dengan mereka, mereka ramah,
baik dan tak pemilih. Dalam hati aku mengatakan “Akhirnya aku bisa disini
setelah bertahan dalam ketidaknyamanan di SMA ku dulu, setelah mengikuti tes
yang cukup sulit. Alhamdulillah”
Saat menangis karna tidak berhasil memasuki kelas IPA hanya
karna nilai biologiku kurang 0,4. Cita-cita yang telah disusun sejak dini
hancur seketika. Ini memang salahku karna saat di SMAN 17 dulu, aku malas, lebih
mengikuti egoku. Menangis sebelum pergi sekolah, datang terlambat hampir setiap
hari, memakai seragam yang salah, bahkan saat guru menjelaskanpun aku hanya
diam tak memperhatikan yah tepat di kursi tempatku pojok belakang. Ini sebabnya
rapot semester satuku GILA.
Tapi keberuntungan selalu berpihak saat itu, walaupun aku
duduk di kelas IPS, aku ditempatkan dikelas IPS terbaik yang menjuluki dirinya
KUBUS, aku kenal dengan orang-orang terbaik IPS yang dijuluki “GENG PINTAR”. Lucu
memang karna aku menjadi salah satu diantara mereka ber5. Aku memang malas,
belajar hanya karna ada tugas rumah. Tapi inilah keberuntungan, 5 besar selalu
ditangan, ini pasti turunan dari papah =)). Olimpiade Akuntansi se-Bandung,
cerda cermat ekonomi se-Bandung, alhamdulillah bisa membuat mamah papah bangga.
Memasuki kelas 3, aku ditempatkan dikelas yang katanya
“kelas sisa”, tak ada anggota GP yang sekelas lagi denganku. Dikelas ini anaknya
konyol semua, kami menjuluki kelas ini dengan sebutan PLAKONYE, kecoa mati kami
kubur bersama, kami bacakan tahlil bersama. Kebodohan tapi ini lucu. Saat kami
dilarang memasuki kelas matematika karna telat, 6 pertemuan kami lewatkan
padahal UN makin dekat. Surat perjanjian yang akhirnya meloloskan kami ber 9
dan akhirnya diperbolehkan kembali mengikuti kelas. Main poker sampai akhirnya
dijuluki Ratu Poker karna kepandaianku mengalahkan para pria HAHAHA. Membuat
rujak dijam istirahat dan memakannya di taman sekolah sampai terkena marah,
konser didepan kelas hingga dikejar guru,rubik sampai salah satu guru marah
karna kami terlalu asik dan UNO sampai ngebadut.
Sampai akhirnya aku lulus dari sana, banyak sekali cerita,
berwarna. Mulai dari menjadi siswa baru, Geng terpandang, dan tersomplak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar